Jakarta, 12 Juni 2026 – Wakil Ketua MPR menegaskan bahwa upaya meningkatkan literasi nasional tidak boleh berhenti dan harus terus menjadi perhatian bersama seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, literasi merupakan fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas, mampu berpikir kritis, serta siap menghadapi berbagai tantangan di era transformasi digital. Penguatan budaya literasi juga dinilai berperan dalam meningkatkan daya saing bangsa melalui pengembangan pengetahuan dan inovasi. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat perlu terus diperkuat.
Dalam pandangannya, literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir analitis, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting seiring pesatnya perkembangan informasi yang menuntut masyarakat mampu memilah konten yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan literasi yang baik, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi berbagai perubahan sosial, ekonomi, maupun teknologi. Hal ini juga dinilai dapat memperkuat kualitas partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Wakil Ketua MPR mendorong agar berbagai program peningkatan literasi terus diperluas hingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk daerah-daerah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap bahan bacaan dan teknologi. Dukungan terhadap perpustakaan, lembaga pendidikan, komunitas literasi, serta penyediaan fasilitas belajar dinilai menjadi bagian penting dalam membangun budaya membaca yang kuat. Pemerataan akses pendidikan dan informasi juga dipandang sebagai faktor yang menentukan keberhasilan program literasi nasional. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Sejumlah pemerhati pendidikan menilai bahwa penguatan literasi memberikan dampak yang luas terhadap peningkatan kualitas pendidikan, produktivitas, serta kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar. Literasi yang baik juga membantu masyarakat lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan dunia kerja. Selain itu, kemampuan memahami informasi secara kritis dinilai dapat mengurangi risiko penyebaran informasi yang tidak akurat. Oleh sebab itu, pengembangan budaya literasi perlu dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan.
Pemerintah bersama berbagai lembaga terus mendorong pelaksanaan program literasi melalui berbagai pendekatan, mulai dari pengembangan bahan bacaan, pemanfaatan teknologi digital, hingga penyelenggaraan kegiatan edukatif di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Inovasi dalam metode pembelajaran juga diharapkan mampu meningkatkan minat baca dan memperluas akses terhadap sumber pengetahuan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi untuk membangun masyarakat yang lebih cakap dalam memanfaatkan informasi. Evaluasi terhadap efektivitas program juga terus dilakukan agar hasilnya semakin optimal.
Di sisi lain, peran keluarga dinilai tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk kebiasaan membaca dan belajar sejak usia dini. Orang tua diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya minat membaca serta mendorong anak untuk terus mengembangkan rasa ingin tahu. Dukungan dari sekolah, komunitas, dan lingkungan sekitar juga memiliki kontribusi penting dalam memperkuat budaya literasi. Dengan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, upaya peningkatan literasi diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pernyataan Wakil Ketua MPR mengenai pentingnya menjaga kesinambungan peningkatan literasi nasional mencerminkan komitmen untuk membangun masyarakat yang lebih berpengetahuan, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, dan masyarakat, penguatan literasi diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan.