Palangka Raya, 20 Agustus 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah semakin menjadi perhatian setelah luas area yang terbakar mencapai 148,71 hektare. Kondisi tersebut juga mulai memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat karena kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah mencapai 66.679 kasus. Asap dari kebakaran menyebar ke sejumlah wilayah dan mengganggu aktivitas warga, terutama ketika konsentrasi asap meningkat akibat banyaknya titik api. Pemerintah daerah bersama petugas gabungan terus melakukan penanganan untuk mencegah kebakaran meluas. Kondisi cuaca yang cenderung kering membuat upaya pemadaman dan pencegahan harus dilakukan secara intensif.
Berdasarkan pendataan terbaru, terdapat 1.026 titik panas yang terdeteksi di berbagai wilayah Kalimantan Tengah. Dari pemantauan tersebut tercatat 46 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 148,71 hektare. Jumlah titik panas yang cukup tinggi menunjukkan bahwa potensi kebakaran masih berada pada level yang perlu diwaspadai. Titik panas juga tersebar di beberapa kabupaten dengan karakteristik lahan yang berbeda. Petugas terus melakukan pemantauan untuk memastikan titik yang berpotensi menjadi sumber kebakaran dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi api yang lebih besar.
Kapuas menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi di Kalimantan Tengah. Di daerah tersebut terdeteksi 231 titik panas dengan tujuh kejadian karhutla dan luas lahan terbakar sekitar 21,5 hektare. Kotawaringin Timur berada di posisi berikutnya dengan 212 titik panas dan tiga kejadian karhutla yang telah membakar sekitar dua hektare lahan. Sementara itu, wilayah dengan luas kebakaran terbesar tercatat berada di Kotawaringin Barat dengan luas sekitar 46,7 hektare dari delapan kejadian. Sukamara juga menghadapi kondisi serius dengan luas lahan terbakar mencapai 37 hektare dari satu kejadian karhutla dan 37 titik panas.
Penanganan kebakaran dilakukan dengan melibatkan personel gabungan dalam jumlah besar. Sebanyak 10.700 personel telah dikerahkan untuk menjalankan berbagai kegiatan, mulai dari pemadaman, patroli, pemantauan titik panas, hingga pencegahan penyebaran api. Penanganan dari udara juga dilakukan menggunakan lima helikopter untuk membantu menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat. Selain itu, satu pesawat disiapkan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca ketika kondisi atmosfer memungkinkan. Kombinasi penanganan dari darat dan udara diperlukan karena karakteristik lahan di Kalimantan Tengah dapat membuat api sulit dijangkau dan berpotensi menyebar dengan cepat.
Dampak karhutla terhadap masyarakat mulai terlihat dari meningkatnya kasus gangguan pernapasan. Sebanyak 66.679 kasus ISPA tercatat di tengah kondisi kebakaran dan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah. Paparan asap dalam waktu lama dapat membuat masyarakat mengalami gangguan kesehatan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap asap perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kondisi udara semakin tidak sehat. Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat dan menggunakan perlindungan yang sesuai untuk mengurangi paparan.
Kabut asap akibat karhutla juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat di luar persoalan kesehatan. Jarak pandang dapat berkurang ketika asap menumpuk di kawasan permukiman maupun jalur transportasi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan apabila pengendara tidak dapat melihat jalan dengan jelas. Aktivitas sekolah, pekerjaan, dan kegiatan masyarakat lainnya juga dapat terganggu apabila kualitas udara terus memburuk. Pemerintah perlu terus memantau perkembangan kualitas udara agar dapat mengambil langkah perlindungan apabila kondisi semakin tidak aman bagi masyarakat.
Pencegahan menjadi bagian penting karena pemadaman saja tidak cukup untuk menghentikan karhutla apabila titik api terus bermunculan. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan, terutama ketika kondisi vegetasi sedang kering dan angin dapat mempercepat penyebaran api. Pemerintah juga perlu memperkuat patroli di kawasan yang memiliki riwayat kebakaran serta mempercepat pelaporan apabila ditemukan asap atau titik api. Deteksi dini memungkinkan petugas bergerak sebelum api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. Kerja sama masyarakat dengan petugas menjadi salah satu faktor penting untuk mengurangi jumlah kejadian baru.
Dengan luas karhutla yang telah mencapai 148,71 hektare dan jumlah kasus ISPA mencapai 66.679, situasi di Kalimantan Tengah membutuhkan penanganan berkelanjutan. Pemerintah dan petugas gabungan harus terus menjaga keseimbangan antara pemadaman, pencegahan, pemantauan kualitas udara, serta perlindungan kesehatan masyarakat. Tingginya jumlah titik panas menunjukkan bahwa ancaman kebakaran belum berakhir sehingga kewaspadaan tetap diperlukan di seluruh wilayah rawan. Masyarakat juga memiliki peran besar dengan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran dan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Penanganan yang cepat dan koordinasi yang kuat diharapkan dapat menekan luas lahan terbakar sekaligus mencegah dampak kesehatan akibat kabut asap semakin meluas.