Jakarta, 19 September 2026 – Perjalanan Marc Marquez dalam MotoGP 2026 menghadirkan salah satu kebangkitan paling mencolok dalam persaingan gelar musim ini. Pembalap Ducati Lenovo tersebut pernah tertinggal hingga 102 poin dari Marco Bezzecchi setelah tujuh Grand Prix awal. Ketika itu, Marquez hanya mengumpulkan 71 poin, sementara Bezzecchi sudah memiliki 173 poin dan berada di puncak klasemen. Cedera serta hasil yang tidak konsisten membuat peluang Marquez mempertahankan gelar sempat terlihat sangat berat. Bahkan setelah finis ketujuh di GP Italia, pembalap berjuluk The Baby Alien itu sempat berbicara dengan nada realistis mengenai peluangnya dalam kejuaraan. Situasinya berubah drastis dalam tujuh putaran berikutnya hingga Marquez akhirnya mengambil alih posisi teratas klasemen MotoGP 2026.
Masalah besar Marquez bermula ketika mengalami kecelakaan di Tikungan 13 pada GP Prancis di Le Mans. Insiden tersebut menyebabkan patah tulang metatarsal kelima dan memaksanya menjalani proses pemulihan. Marquez kemudian harus menyaksikan GP Catalunya dari rumah sebelum kembali mengendarai Ducati pada GP Italia. Comeback di Mugello belum menghasilkan performa yang diharapkan karena ia hanya mampu finis ketujuh. Pada periode itulah jaraknya dengan Bezzecchi mencapai 102 poin dan peluangnya dalam perebutan gelar terlihat semakin kecil. Marquez bahkan mengakui fokus utamanya saat itu adalah kembali menikmati balapan sekaligus memastikan kondisi fisiknya memungkinkan untuk terus berkompetisi. Namun, fase sulit tersebut ternyata menjadi titik awal perubahan besar dalam perjalanan musimnya.
Kebangkitan mulai terlihat ketika MotoGP memasuki putaran di Balaton Park, Hungaria. Marquez kembali menemukan kecepatan terbaik dan berhasil mengalahkan Pedro Acosta dalam pertarungan untuk meraih kemenangan Grand Prix pertamanya pada musim 2026. Ia mengumpulkan 37 poin penuh dari rangkaian akhir pekan tersebut dan mulai memangkas selisih terhadap para pembalap di depannya. Setelah kemenangan di Hungaria, performanya tidak lagi terlihat seperti pembalap yang baru kembali dari cedera. Marquez terus mengumpulkan kemenangan di Brno, Sachsenring, Aragon hingga Misano. Dalam periode tujuh Grand Prix setelah tertinggal 102 poin, ia mampu menghapus seluruh defisit tersebut. Konsistensi itu secara perlahan mengubah peta persaingan kejuaraan yang sebelumnya didominasi Bezzecchi dan Jorge Martin.
Momentum terbesar kemudian terjadi pada GP San Marino di Misano World Circuit Marco Simoncelli, Minggu, 13 September 2026. Marco Bezzecchi memulai balapan dari pole position dan sempat memimpin setelah berhasil mempertahankan posisinya dari serangan Marquez di tikungan pertama. Namun, pembalap Aprilia tersebut kehilangan kendali dan terjatuh di Tikungan 13 pada lap pembuka. Marquez mengambil alih posisi terdepan sebelum Jorge Martin berhasil melewatinya pada lap ketujuh. Martin sempat membangun jarak, tetapi Marquez kembali menemukan ritme dan merebut pimpinan balapan pada lap ke-12. Setelah itu, pembalap Ducati mampu mempertahankan posisinya hingga garis finis untuk mengamankan kemenangan penting.
Kemenangan di San Marino melengkapi akhir pekan sempurna bagi Marquez setelah sebelumnya juga memenangkan Sprint. Tambahan total 37 poin membuat koleksinya meningkat menjadi 274 angka. Jumlah tersebut sama dengan milik Jorge Martin, tetapi Marquez berhak berada di posisi pertama karena unggul dalam jumlah kemenangan Grand Prix. Marquez sudah mengoleksi lima kemenangan utama pada musim 2026, sedangkan Martin baru memiliki satu kemenangan. Bezzecchi yang gagal mendapatkan poin di Misano turun menjadi posisi ketiga dengan 241 angka atau tertinggal 33 poin. Untuk pertama kalinya sejak musim 2026 dimulai, nama Marc Marquez akhirnya berada di posisi teratas klasemen sementara.
Perubahan posisi tersebut terasa semakin dramatis jika melihat situasi Marquez hanya beberapa bulan sebelumnya. Ia bukan sekadar tertinggal lebih dari 100 poin, tetapi juga harus menghadapi masalah fisik dan kehilangan kesempatan mengumpulkan angka ketika absen. Marquez mengatakan keberhasilannya kembali memimpin klasemen terasa tidak nyata, tetapi menekankan pentingnya tidak menyerah sebelum persaingan benar-benar selesai. Ia juga menyadari posisi teratas belum memberikan jaminan apa pun karena Martin memiliki jumlah poin yang sama dan Bezzecchi masih berada dalam jarak yang dapat dikejar. Persaingan berlangsung dengan margin sangat tipis sehingga satu kesalahan dapat mengubah klasemen secara signifikan. Kondisi tersebut terlihat jelas di Misano ketika kecelakaan Bezzecchi langsung memberikan konsekuensi besar terhadap posisi tiga pembalap utama.
Jika Marquez mampu menutup musim sebagai juara dunia, kebangkitan dari defisit 102 poin tersebut berpotensi menjadi comeback poin terbesar dalam sejarah era MotoGP. Catatan sebelumnya dipegang Francesco Bagnaia ketika mengejar ketertinggalan 91 poin dari Fabio Quartararo pada musim 2022 sebelum akhirnya menjadi juara dunia. Joan Mir pernah bangkit dari defisit 48 poin pada 2020, sedangkan Marquez sendiri pernah mengejar selisih 37 poin pada musim 2017. Situasi 2026 memiliki skala yang jauh lebih besar karena Marquez harus mengejar lebih dari 100 angka di tengah musim. Meski demikian, pencapaian tersebut baru dapat menjadi rekor comeback perebutan gelar apabila ia benar-benar menjadi juara pada akhir musim. Dengan delapan Grand Prix masih tersisa setelah Misano, persaingan masih menyediakan banyak poin untuk Marquez maupun para rivalnya.
Performa Marquez selama fase kebangkitannya menunjukkan perubahan besar dibandingkan tujuh seri pertama. Lima kemenangan Grand Prix menjadi faktor utama yang mengangkatnya dari posisi kedelapan hingga puncak klasemen. Ducati juga kembali mendapatkan momentum dalam persaingan konstruktor setelah hasil kuat pembalap bernomor 93 tersebut. Manajer Ducati Lenovo Davide Tardozzi tetap mengingatkan tim agar tidak terbawa oleh keberhasilan di Misano karena perjalanan kejuaraan masih panjang. Menurutnya, Ducati harus tetap mengumpulkan poin ketika bukan menjadi motor tercepat dan memaksimalkan peluang kemenangan ketika memiliki performa terbaik. Pengalaman Marquez dalam menghadapi perebutan gelar dinilai menjadi aset penting ketika tekanan meningkat pada fase akhir musim.
Kini perhatian beralih menuju GP Austria di Red Bull Ring pada 18–20 September 2026. Marquez datang sebagai pemimpin klasemen, tetapi keunggulannya terhadap Martin hanya ditentukan oleh jumlah kemenangan karena keduanya sama-sama memiliki 274 poin. Bezzecchi juga belum keluar dari persaingan dengan selisih 33 angka, sementara masih banyak poin tersedia hingga seri terakhir. Posisi tersebut sangat berbeda dibandingkan beberapa bulan sebelumnya ketika Marquez tertinggal 102 poin dan sempat melihat peluang gelar sebagai sesuatu yang sangat jauh. Kebangkitannya membuktikan betapa cepat peta persaingan MotoGP dapat berubah ketika seorang pembalap mampu merangkai kemenangan secara konsisten. Dari cedera, tertinggal lebih dari seratus poin hingga akhirnya memimpin klasemen, perjalanan Marquez kini memasuki fase menentukan untuk melihat apakah comeback besar tersebut dapat disempurnakan dengan gelar MotoGP 2026.