Jakarta, 17 September 2026 – Indonesia memasuki babak baru dalam pengembangan kekuatan maritim setelah muncul rencana menghadirkan kapal induk untuk memperkuat kemampuan TNI Angkatan Laut. Kehadiran kapal berukuran besar tersebut dapat memperluas kemampuan operasi laut, dukungan udara, bantuan kemanusiaan hingga penanganan bencana di wilayah kepulauan. Namun, pembangunan kapal induk merupakan salah satu proyek pertahanan paling kompleks karena membutuhkan teknologi kapal, sistem penerbangan, sensor, persenjataan, mesin, hingga dukungan logistik yang terintegrasi. Di dunia, hanya sejumlah negara yang memiliki pengalaman dan kemampuan industri untuk membangun kapal induk secara mandiri. Amerika Serikat, China, Inggris, Prancis dan India menjadi contoh negara yang telah mengembangkan serta membangun kapal induk melalui industri nasional mereka. Pengalaman kelima negara tersebut menunjukkan penguasaan teknologi kapal induk membutuhkan investasi dan pengembangan industri dalam jangka panjang.
Amerika Serikat menjadi salah satu negara dengan pengalaman terpanjang dalam pembangunan kapal induk modern. Industri pertahanan negara tersebut mampu memproduksi kapal induk bertenaga nuklir dengan ukuran dan kemampuan operasional yang sangat besar. Kelas Nimitz selama beberapa dekade menjadi tulang punggung kekuatan kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat sebelum generasi baru kelas Gerald R. Ford mulai diperkenalkan. Kapal kelas Ford membawa sejumlah teknologi baru, termasuk sistem peluncuran pesawat elektromagnetik dan perangkat penanganan pesawat yang semakin modern. Pembangunan kapal dilakukan dengan melibatkan jaringan industri pertahanan dan galangan kapal yang telah berkembang selama puluhan tahun. Kemampuan tersebut membuat Amerika Serikat memiliki ekosistem lengkap untuk pembangunan, pengoperasian, perawatan, dan modernisasi kapal induk.
China juga berkembang menjadi kekuatan penting dalam teknologi kapal induk. Setelah mengoperasikan Liaoning yang berasal dari lambung kapal era Uni Soviet, China kemudian membangun Shandong di dalam negeri. Kemampuan industri negara tersebut berkembang lebih jauh melalui pembangunan Fujian yang memiliki desain lebih maju. Fujian menjadi tonggak penting karena menggunakan sistem peluncuran elektromagnetik untuk mendukung operasi pesawat dari geladaknya. Pengembangan tersebut menunjukkan China bergerak dari proses pembelajaran teknologi menuju kemampuan merancang kapal induk dengan karakteristik yang semakin sesuai kebutuhan militernya sendiri. Industri galangan kapal yang besar menjadi salah satu faktor penting dalam percepatan program tersebut.
Inggris memiliki sejarah panjang dalam pengembangan kapal induk dan kini mengoperasikan kapal kelas Queen Elizabeth. HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales dibangun melalui kerja sama industri pertahanan Inggris dengan melibatkan sejumlah fasilitas galangan kapal di negara tersebut. Kapal ini dirancang untuk mengoperasikan pesawat tempur F-35B yang memiliki kemampuan lepas landas pendek dan mendarat secara vertikal. Desain tersebut membuat Inggris tidak membutuhkan sistem ketapel seperti yang digunakan kapal induk Amerika Serikat. Pembangunan kelas Queen Elizabeth juga memperlihatkan pentingnya kemampuan industri dalam mengintegrasikan berbagai komponen dari sejumlah lokasi produksi. Kapal kemudian dirakit menjadi satu platform yang dapat menjalankan operasi udara dan laut dalam skala besar.
Prancis menjadi negara lain yang memiliki kemampuan membangun kapal induk sendiri. Charles de Gaulle merupakan kapal induk bertenaga nuklir yang menjadi pusat kekuatan udara Angkatan Laut Prancis. Kapal tersebut menggunakan sistem ketapel untuk meluncurkan pesawat tempur dari geladaknya. Penguasaan teknologi nuklir, galangan kapal, elektronika pertahanan dan penerbangan memberikan Prancis kemampuan mempertahankan program kapal induk nasional. Pemerintah Prancis juga telah mempersiapkan generasi penerus melalui program kapal induk masa depan. Proyek tersebut menunjukkan pembangunan kapal induk tidak berhenti setelah satu kapal selesai, tetapi membutuhkan kesinambungan kemampuan desain, tenaga ahli dan industri pendukung.
India turut mencatatkan kemajuan setelah berhasil membangun INS Vikrant sebagai kapal induk pertama yang dirancang dan dibangun di dalam negeri. Kapal tersebut dibangun di Cochin Shipyard dan menjadi simbol peningkatan kemampuan industri galangan India. INS Vikrant dirancang untuk mengoperasikan pesawat tempur menggunakan konfigurasi landasan dengan ski-jump. Proses pembangunannya membutuhkan waktu panjang karena India harus mengembangkan rantai pasok dan kemampuan teknis untuk berbagai komponen kapal. Meski sejumlah teknologi dan perangkat masih berasal dari luar negeri, pembangunan Vikrant memberikan pengalaman penting bagi industri nasional India. Pengalaman tersebut dapat menjadi fondasi untuk program kapal induk berikutnya.
Bagi Indonesia, pembahasan mengenai kapal induk berlangsung bersamaan dengan upaya modernisasi alat utama sistem senjata dan penguatan industri pertahanan domestik. Indonesia telah memiliki kemampuan membangun berbagai jenis kapal perang melalui industri galangan nasional, termasuk kapal patroli, kapal cepat rudal, kapal pendarat dan sejumlah platform pendukung. Namun, kapal induk berada pada tingkat kompleksitas berbeda karena membutuhkan sistem penerbangan laut dan fasilitas pemeliharaan yang jauh lebih besar. Selain kapal utama, pengoperasiannya memerlukan kapal pengawal, sistem pertahanan udara, kapal logistik, pesawat atau helikopter, serta personel dalam jumlah besar. Infrastruktur pangkalan juga harus mampu mendukung dimensi dan kebutuhan teknis kapal. Karena itu, kesiapan operasional menjadi faktor yang sama pentingnya dengan proses memperoleh kapal.
Kapal induk juga tidak selalu digunakan semata-mata untuk operasi tempur. Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, kapal berukuran besar dengan dek penerbangan dapat memberikan kemampuan tambahan dalam operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Helikopter dapat digunakan untuk mengirim personel, obat-obatan, makanan dan perlengkapan menuju wilayah yang akses daratnya terputus. Kapal juga dapat berfungsi sebagai pusat komando serta basis logistik sementara di kawasan terdampak bencana. Namun, fungsi tersebut perlu dipertimbangkan bersama biaya pengadaan, pengoperasian dan pemeliharaan dalam jangka panjang. Pemerintah juga harus memastikan setiap investasi pertahanan sesuai kebutuhan strategis dan kemampuan fiskal nasional.
Pengalaman Amerika Serikat, China, Inggris, Prancis dan India memperlihatkan bahwa kemampuan membangun kapal induk merupakan hasil pengembangan teknologi serta industri selama bertahun-tahun. Indonesia memiliki basis industri galangan yang dapat terus dikembangkan, tetapi penguasaan kapal induk membutuhkan peningkatan kemampuan pada banyak bidang sekaligus. Transfer teknologi dan peningkatan kapasitas industri nasional dapat menjadi bagian penting apabila program tersebut dilanjutkan. Kehadiran kapal induk nantinya juga harus terintegrasi dengan strategi pertahanan laut secara keseluruhan, bukan berdiri sebagai satu platform tunggal. Dengan wilayah laut yang luas, kebutuhan Indonesia terhadap kekuatan maritim akan terus berkembang mengikuti perubahan lingkungan strategis. Program kapal induk dapat menjadi salah satu bagian dari proses tersebut sepanjang pembangunan kemampuan operasional dan industri pendukung berjalan secara berkelanjutan.