Kathmandu, 27 Agustus 2026 – Banjir bandang dahsyat menerjang sejumlah wilayah Nepal di sekitar perbatasan dengan Tibet pada Rabu (26/8/2026). Air bah datang secara tiba-tiba dengan kekuatan besar hingga menyapu permukiman, jalan, jembatan, serta sejumlah fasilitas infrastruktur. Pada laporan awal, sedikitnya 31 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara ratusan lainnya belum ditemukan.
Bencana terjadi di sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi dan kemudian berdampak ke sejumlah wilayah di bagian tengah Nepal. Rasuwa menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah. Arus deras membawa material lumpur, batu dan puing-puing sehingga menghantam kawasan yang berada di sepanjang aliran sungai.
Video yang beredar memperlihatkan dahsyatnya air bah ketika menerjang kawasan terdampak. Warga terlihat berusaha menyelamatkan diri dari gelombang air yang datang dengan cepat. Besarnya aliran air bahkan membuat bencana tersebut digambarkan seperti tsunami di daratan.
Situasi kemudian berkembang sangat cepat. Jumlah korban yang pada awalnya dilaporkan mencapai 31 orang meningkat menjadi puluhan hingga lebih dari 90 orang dalam laporan berikutnya. Data Radio Nepal menyebut 95 korban telah ditemukan pada Rabu malam, sementara laporan terbaru lainnya menyebut jumlah korban terus bertambah seiring proses pencarian dan evakuasi.
Ratusan orang juga masih dinyatakan hilang atau belum dapat dihubungi. Di antara mereka terdapat wisatawan asing yang sedang berada di kawasan perbatasan Nepal-Tibet. Otoritas Nepal sebelumnya mencatat ratusan pelancong belum diketahui keberadaannya, termasuk warga dari sejumlah negara seperti India, Inggris, Amerika Serikat dan Malaysia.
Bencana tersebut juga menghantam berbagai fasilitas penting. Sejumlah jalan dan jembatan dilaporkan rusak atau tersapu banjir sehingga menyulitkan tim penyelamat mencapai lokasi terdampak. Infrastruktur pembangkit listrik tenaga air turut mengalami kerusakan, sementara komunikasi di beberapa wilayah terganggu akibat derasnya air dan kerusakan jaringan.
Operasi pencarian dan penyelamatan langsung dilakukan oleh aparat Nepal. Namun, proses evakuasi menghadapi tantangan besar karena kondisi cuaca, kerusakan jalan dan jembatan, serta aliran sungai yang masih berbahaya. Helikopter dikerahkan untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat.
Penyebab pasti bencana masih dalam penyelidikan. Sejumlah laporan awal menyebut adanya longsoran besar di kawasan Tibet yang kemungkinan dipicu aktivitas gempa. Material batu dan es dalam jumlah besar kemudian jatuh ke lembah dan mendorong massa air menuju aliran sungai.
Para ahli juga menduga runtuhnya bagian gletser menjadi salah satu pemicu utama. Citra satelit menunjukkan adanya bagian gletser pada ketinggian sekitar 5.200 meter yang runtuh dan meluncur ke lembah. Material es, batu serta sedimen kemudian masuk ke sistem sungai dan menghasilkan gelombang banjir yang sangat besar.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan Nepal. Wilayah Tibet di sisi perbatasan China juga mengalami kerusakan dan korban. Pemerintah China mengerahkan personel untuk membantu pencarian dan penyelamatan setelah sejumlah orang dilaporkan meninggal maupun hilang di wilayah tersebut.
Besarnya bencana membuat jumlah korban masih sangat mungkin berubah. Tim penyelamat terus melakukan pencarian di sepanjang aliran sungai dan kawasan yang tertutup material longsor. Banyak lokasi belum dapat diperiksa secara menyeluruh karena akses menuju wilayah tersebut terputus.
Banjir bandang kali ini menjadi salah satu bencana paling mematikan yang melanda Nepal dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi geografis Himalaya, perubahan kondisi gletser, serta ancaman longsor dan banjir bandang membuat wilayah tersebut sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi dan geologi.
Pemerintah Nepal bersama aparat dan tim kemanusiaan kini memprioritaskan pencarian korban yang masih hilang, evakuasi warga dari kawasan berbahaya, serta pemulihan akses menuju wilayah terdampak. Dengan banyaknya korban yang belum ditemukan, operasi penyelamatan diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.