Jakarta, 11 September 2026 – Seorang biksu senior di Thailand ditangkap aparat setelah diduga terlibat penggelapan dan pencucian uang dana kuil dengan nilai sekitar 92 juta baht atau setara puluhan miliar rupiah. Biksu berusia 66 tahun tersebut dikenal sebagai Phra Vajirayan atau Luang Por Chot dan merupakan tokoh senior di Wat Phutthaisawan, sebuah kuil bersejarah di Provinsi Ayutthaya. Penangkapan dilakukan pada Kamis setelah penyidik mengembangkan perkara terkait pengelolaan keuangan kuil. Selain persoalan dana, penyelidikan juga menyeret dugaan pelanggaran berat terhadap aturan kehidupan monastik, termasuk persoalan hubungan seksual. Kasus tersebut kembali mengguncang institusi keagamaan Thailand setelah sebelumnya sejumlah biksu senior terseret perkara keuangan dan skandal seksual. Aparat kini mendalami aliran uang serta keterlibatan pihak lain yang diduga membantu transaksi.
Penyelidikan terhadap Phra Vajirayan berfokus pada dugaan penyalahgunaan uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan kuil. Nilai dana yang menjadi perhatian penyidik disebut mencapai sekitar 92 juta baht, yang apabila dikonversikan berada di kisaran Rp49 miliar. Polisi menduga terdapat transaksi yang tidak sesuai dengan tujuan penggunaan dana dan kemudian melakukan penelusuran terhadap sejumlah rekening. Dokumen keuangan serta bukti transaksi menjadi bagian penting untuk mengetahui bagaimana uang berpindah dan siapa saja yang menerimanya. Pemeriksaan juga diarahkan untuk mengetahui apakah dana digunakan untuk kepentingan pribadi atau dialihkan melalui pihak lain. Aparat belum menutup kemungkinan nilai dana yang diperiksa berkembang seiring ditemukannya bukti tambahan.
Kasus menjadi semakin serius setelah penyidik mengaitkannya dengan dugaan pencucian uang. Penelusuran dilakukan untuk mengetahui apakah dana yang berasal dari kuil dipindahkan melalui berbagai transaksi dengan tujuan menyamarkan asal-usulnya. Dalam perkara keuangan seperti ini, penyidik harus mencocokkan catatan rekening dengan pemasukan resmi kuil serta penggunaan dana yang dapat dipertanggungjawabkan. Aset yang diduga dibeli menggunakan dana bermasalah juga dapat menjadi sasaran pemeriksaan. Aparat Thailand berupaya mengetahui apakah terdapat pihak lain yang berperan sebagai penerima, penghubung, maupun pemegang aset. Apabila ditemukan bukti cukup, penyidikan dapat berkembang kepada tersangka tambahan.
Di luar persoalan keuangan, penyelidikan terhadap biksu senior tersebut turut mendapatkan perhatian karena adanya dugaan skandal seksual. Hubungan seksual merupakan pelanggaran serius terhadap aturan monastik bagi biksu Buddha sehingga tuduhan tersebut memiliki konsekuensi besar terhadap status keagamaannya. Penyidik mendalami informasi dan barang bukti yang berkaitan dengan dugaan hubungan tersebut serta kemungkinan kaitannya dengan aliran dana yang sedang diperiksa. Namun, setiap tuduhan tetap harus dibuktikan melalui proses penyelidikan dan hukum yang berlaku. Aparat berupaya memisahkan antara dugaan tindak pidana dengan pelanggaran aturan keagamaan agar penanganannya berjalan sesuai kewenangan masing-masing. Pemeriksaan terhadap sejumlah pihak diperkirakan terus dilakukan untuk memperjelas rangkaian peristiwa.
Wat Phutthaisawan yang berada di Ayutthaya merupakan salah satu kuil yang memiliki nilai sejarah penting di Thailand. Keberadaan seorang tokoh senior dari kuil tersebut dalam perkara pidana membuat kasus mendapatkan perhatian luas masyarakat. Dana yang masuk ke kuil umumnya berasal dari sumbangan masyarakat dan digunakan untuk kegiatan keagamaan, pemeliharaan bangunan, serta berbagai kegiatan sosial. Karena itu, dugaan penyalahgunaan dana dapat berdampak besar terhadap kepercayaan para donatur. Transparansi pengelolaan keuangan menjadi semakin penting ketika nilai sumbangan yang dikelola mencapai jumlah besar. Pemeriksaan terhadap kasus tersebut juga dapat mendorong evaluasi tata kelola keuangan di lingkungan kuil.
Penangkapan terbaru terjadi ketika Thailand masih menghadapi dampak sejumlah skandal yang sebelumnya melibatkan tokoh agama Buddha. Kasus-kasus tersebut mencakup dugaan penyalahgunaan sumbangan, pencucian uang, hingga hubungan seksual yang melanggar aturan monastik. Pada 2025, skandal yang melibatkan sejumlah biksu senior dan seorang perempuan bahkan menjadi perhatian nasional setelah penyidik menemukan materi pribadi yang diduga digunakan untuk menekan sejumlah tokoh agama. Beberapa biksu kemudian kehilangan status monastiknya ketika perkara berkembang. Pemerintah dan lembaga keagamaan Thailand setelah itu meningkatkan perhatian terhadap pengawasan biksu dan pengelolaan dana kuil. Penangkapan Phra Vajirayan membuat persoalan integritas lembaga keagamaan kembali menjadi pembicaraan.
Aparat Thailand juga semakin mengandalkan penelusuran transaksi keuangan untuk mengungkap dugaan penyalahgunaan dana kuil. Rekening bank, dokumen sumbangan, aset, serta transaksi pihak yang memiliki hubungan dengan tersangka dapat diperiksa untuk mengetahui pergerakan uang. Cara tersebut memungkinkan penyidik membedakan pengeluaran yang berkaitan dengan aktivitas resmi kuil dan transaksi yang diduga digunakan untuk kepentingan lain. Apabila terdapat uang yang dialihkan melalui beberapa rekening, pola tersebut dapat dianalisis untuk mengetahui penerima akhirnya. Penyitaan aset juga dapat dilakukan apabila penyidik memperoleh dasar hukum yang menunjukkan keterkaitan dengan dugaan tindak pidana. Langkah tersebut bertujuan menjaga aset agar tidak dipindahkan selama perkara masih berjalan.
Kasus ini turut memperbesar tuntutan masyarakat Thailand terhadap transparansi pengelolaan sumbangan keagamaan. Kuil-kuil di negara tersebut dapat menerima dana dalam jumlah besar dari masyarakat, terutama tempat ibadah yang terkenal atau memiliki tokoh agama berpengaruh. Sistem pencatatan yang kuat diperlukan agar setiap pemasukan dan pengeluaran dapat diperiksa secara jelas. Pengawasan juga dibutuhkan untuk mencegah kekuasaan pengelolaan dana terkonsentrasi pada satu orang tanpa mekanisme pemeriksaan. Persoalan menjadi semakin sensitif karena sumbangan diberikan masyarakat berdasarkan kepercayaan dan keyakinan keagamaan. Penyalahgunaan dana karena itu tidak hanya memiliki konsekuensi hukum, tetapi juga dapat merusak hubungan antara masyarakat dan institusi keagamaan.
Penyelidikan terhadap Phra Vajirayan diperkirakan berlanjut dengan pemeriksaan saksi, dokumen, rekening, dan berbagai barang bukti yang telah diamankan. Penyidik akan berusaha memastikan nilai dana yang diduga disalahgunakan serta bagaimana uang tersebut digunakan atau dipindahkan. Keterangan orang-orang yang membantu pengelolaan keuangan kuil juga dapat diperlukan untuk mengetahui mekanisme transaksi. Sementara itu, dugaan skandal seksual akan diperiksa berdasarkan bukti yang tersedia dan dipisahkan dari kesimpulan yang hanya berkembang melalui spekulasi publik. Status hukum setiap pihak akan ditentukan berdasarkan peran dan bukti masing-masing. Prinsip praduga tak bersalah tetap berlaku sampai perkara mendapatkan keputusan melalui proses hukum.
Penangkapan biksu senior tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam rangkaian persoalan yang mendorong Thailand memperketat pengawasan terhadap pengelolaan keuangan lembaga keagamaan. Dugaan penggelapan sekitar 92 juta baht menjadi fokus utama penyidik bersama kemungkinan tindak pidana pencucian uang, sementara persoalan seksual menambah dimensi lain terhadap kasus tersebut. Aparat masih menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang menerima atau membantu memindahkan dana. Kasus ini juga diperkirakan meningkatkan tekanan agar mekanisme audit dan transparansi keuangan kuil diperkuat. Pemeriksaan yang menyeluruh dibutuhkan untuk memastikan dana sumbangan masyarakat digunakan sesuai tujuan serta setiap dugaan pelanggaran dapat dipertanggungjawabkan. Perkembangan penyidikan selanjutnya akan menentukan sejauh mana kasus tersebut melibatkan jaringan yang lebih luas di luar biksu senior yang telah ditangkap.