Jakarta, 9 September 2026 – Miss Indonesia 2025 Audrey Bianca Callista telah menuntaskan perjalanannya mewakili Indonesia di ajang Miss World 2026 yang digelar di Vietnam. Meski belum berhasil membawa pulang mahkota utama, Audrey mengakhiri kompetisi dengan pencapaian Top 40 sekaligus memenangkan Multimedia Challenge untuk kawasan Asia dan Oseania. Perjalanan selama hampir satu bulan bersama lebih dari 100 kontestan dari berbagai negara memberikan pengalaman yang disebut sangat berharga bagi perempuan berusia 23 tahun tersebut. Kompetisi bukan hanya menguji penampilan di atas panggung, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, membangun kepercayaan diri, beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga memperkenalkan budaya dan isu sosial dari Indonesia. Seluruh proses itu menjadi pengalaman yang akan dibawa Audrey setelah kembali menjalankan aktivitasnya di Tanah Air.
Miss World edisi ke-73 berlangsung di Vietnam sejak 9 Agustus hingga 5 September 2026 dan diikuti 111 finalis dari berbagai negara. Audrey tiba dengan membawa persiapan panjang yang telah dijalani sejak dirinya dinobatkan sebagai Miss Indonesia 2025. Selama sekitar 13 bulan, ia menjalani pembekalan dalam berbagai aspek mulai dari komunikasi, kebugaran, penampilan, wawasan, hingga pengembangan proyek sosial. Persiapan tersebut sekaligus membentuk mentalnya untuk menghadapi tekanan kompetisi internasional. Audrey sebelumnya mengakui perjalanan menuju Miss World telah membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat dan percaya diri.
Salah satu pencapaian penting Audrey selama kompetisi adalah memenangkan Multimedia Challenge untuk kawasan Asia dan Oseania. Hasil tersebut membuatnya memperoleh tempat di jajaran Top 40 Miss World 2026. Tantangan multimedia menguji kemampuan peserta memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan pesan, memperkenalkan aktivitas selama kompetisi, serta membangun keterlibatan dengan masyarakat. Latar belakang Audrey sebagai model dan kreator konten turut memberikan bekal dalam menghadapi tantangan tersebut. Prestasi itu menjadi salah satu catatan penting yang dibawa Indonesia dari penyelenggaraan Miss World tahun ini.
Audrey juga mendapatkan kesempatan memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada peserta dan penonton internasional. Salah satu momen yang mencuri perhatian terjadi ketika dirinya membawakan tarian kuda lumping dalam sesi Dance of the World. Penampilan tersebut menjadi kesempatan bagi Audrey untuk membawa salah satu kekayaan budaya Indonesia ke panggung global. Sebelumnya, ia juga mengikuti rangkaian kegiatan pembukaan dengan mengenakan Ao Dai, busana tradisional Vietnam yang digunakan para finalis dalam agenda penyambutan. Pertukaran budaya menjadi salah satu pengalaman yang memperluas perspektif Audrey selama berada di Vietnam.
Berbagai tantangan yang diikuti juga membuat Audrey berinteraksi secara intensif dengan kontestan dari latar belakang yang sangat beragam. Mereka tidak hanya bersaing di atas panggung, tetapi menjalani berbagai kegiatan bersama selama beberapa pekan. Pertemuan dengan perempuan muda dari puluhan negara memberikan kesempatan untuk bertukar pandangan mengenai pendidikan, budaya, persoalan sosial, lingkungan, hingga kehidupan di negara masing-masing. Pengalaman tersebut menjadi salah satu nilai yang tidak dapat diukur hanya berdasarkan posisi akhir kompetisi. Jaringan pertemanan internasional yang terbentuk menjadi bagian lain dari perjalanan Audrey di Miss World.
Misi sosial menjadi bagian penting yang dibawa Audrey selama mengikuti kompetisi. Melalui program Beauty With a Purpose, ia memperkenalkan proyek bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang yang dikembangkan untuk masyarakat di Letepalolo, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Wilayah yang dihuni sekitar 310 penduduk dalam 73 keluarga tersebut sebelumnya menghadapi keterbatasan akses listrik yang berdampak terhadap aktivitas sehari-hari dan pendidikan anak. Audrey terlibat dalam upaya menghadirkan pencahayaan berbasis tenaga surya bagi masyarakat. Program tersebut tidak hanya menjadi materi kompetisi, tetapi dirancang untuk memberikan dampak yang dapat terus dirasakan setelah Miss World berakhir.
Melalui proyek itu, penerangan tenaga surya diarahkan untuk menjangkau 38 rumah sekaligus mendukung pembangunan balai komunitas bertenaga surya. Audrey juga membawa gagasan Perpustakaan Kartini sebagai ruang belajar yang aman dan memiliki pencahayaan memadai bagi anak-anak. Penduduk setempat mendapatkan pelatihan agar mampu merawat sistem energi tersebut secara mandiri sehingga manfaatnya dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Pengalaman turun langsung melihat masyarakat yang sebelumnya memiliki akses listrik terbatas turut memberikan perspektif baru bagi Audrey mengenai arti sebuah advokasi. Program tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa konsep kecantikan dalam Miss World dikaitkan dengan kontribusi sosial yang nyata.
Perjalanan Audrey menuju panggung dunia sendiri tidak selalu berlangsung tanpa keraguan. Sebelum berangkat ke Vietnam, ia pernah mengungkapkan sempat mengalami rasa tidak percaya diri selama menjalani masa persiapan. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan Miss Indonesia membantunya melewati tekanan tersebut. Ia kemudian menjadikan setiap tahap persiapan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan memperkuat mental. Pengalaman menghadapi ketidakpercayaan diri tersebut membuat pencapaiannya di Miss World memiliki makna yang lebih personal daripada sekadar hasil kompetisi.
Pada malam final 5 September 2026, Audrey berhasil berada di jajaran Top 40 tetapi tidak melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya. Hasil tersebut tidak mengurangi apresiasi yang diterimanya setelah kompetisi selesai. Perjalanannya dinilai tetap memberikan pencapaian positif karena mampu mempertahankan keberadaan Indonesia dalam jajaran peserta yang mendapatkan posisi di Miss World. Kemenangan pada kategori multimedia juga menjadi bukti bahwa Audrey mampu bersaing pada salah satu aspek penting dalam format kompetisi tahun ini. Dukungan terhadap dirinya terus bermunculan setelah hasil akhir diumumkan.
Di luar kompetisi, Audrey memiliki latar belakang yang sejalan dengan sejumlah isu yang dibawanya selama menjadi Miss Indonesia. Ia merupakan lulusan ilmu politik dengan fokus hubungan dan organisasi internasional serta aktif dalam isu keberlanjutan lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan generasi muda. Audrey juga menguasai beberapa bahasa dan memiliki pengalaman sebagai pembicara publik, model, serta kreator konten. Pengalaman di Miss World memberikan ruang baginya untuk menghubungkan berbagai kemampuan tersebut dalam satu panggung internasional. Ke depan, ia memiliki aspirasi untuk terus terlibat dalam kegiatan yang memberikan dampak sosial dan membuka kesempatan lebih besar bagi masyarakat.
Berakhirnya Miss World 2026 dengan demikian bukan menjadi akhir perjalanan Audrey Bianca dalam menjalankan perannya sebagai Miss Indonesia. Ia membawa pulang pengalaman berkompetisi dengan 110 perempuan dari berbagai negara, pencapaian Top 40, kemenangan Multimedia Challenge Asia dan Oseania, serta kesempatan memperkenalkan budaya dan proyek sosial Indonesia kepada dunia. Lebih dari hasil kompetisi, perjalanan tersebut memberikan pengalaman mengenai kepemimpinan, kepercayaan diri, keberagaman, dan tanggung jawab sosial. Program Habis Gelap Terbitlah Terang juga menjadi warisan penting yang dapat terus dikembangkan setelah panggung Miss World selesai. Bagi Audrey, pengalaman di Vietnam menjadi bekal untuk melanjutkan langkah berikutnya dengan cakupan kontribusi yang lebih luas.