Jakarta, 15 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto terus memperkuat kerja sama internasional melalui keterlibatan Indonesia dalam BRICS sebagai bagian dari strategi menjaga kepentingan nasional di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi dunia. Keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut dipandang membuka ruang lebih luas untuk membangun hubungan dengan berbagai negara tanpa meninggalkan kemitraan yang telah terjalin sebelumnya. Pemerintah menempatkan kerja sama internasional sebagai instrumen untuk memperkuat ketahanan ekonomi, energi, pangan, perdagangan, investasi, dan pembangunan nasional. Pendekatan tersebut sekaligus menegaskan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif serta tidak bergantung pada satu kekuatan tertentu. Indonesia berupaya mengambil manfaat konkret dari setiap forum multilateral yang diikuti. Kepentingan masyarakat dan pembangunan nasional tetap ditempatkan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan arah kerja sama.
BRICS mempunyai posisi strategis karena menghimpun sejumlah negara dengan populasi, sumber daya, pasar, dan kekuatan ekonomi yang besar. Perkembangan kelompok tersebut memberikan ruang bagi negara berkembang untuk meningkatkan komunikasi mengenai berbagai persoalan ekonomi global. Indonesia melihat peluang untuk menggunakan forum itu sebagai salah satu jalur memperluas pasar sekaligus meningkatkan investasi. Hubungan dengan negara anggota juga dapat dikembangkan dalam bidang industri, teknologi, pertanian, energi, dan pembangunan infrastruktur. Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertemuan diplomatik, tetapi menghasilkan proyek dan kesepakatan yang mempunyai manfaat langsung. Pemerintah juga mempunyai kesempatan memperjuangkan kepentingan negara berkembang dalam pembahasan tata kelola ekonomi internasional.
Prabowo menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu kepentingan strategis yang dapat diperkuat melalui hubungan internasional. Indonesia membutuhkan sistem pangan yang mampu menghadapi perubahan iklim, gangguan rantai pasok, konflik geopolitik, dan perubahan harga komoditas dunia. Kerja sama dengan negara lain dapat mencakup teknologi pertanian, pupuk, mekanisasi, penelitian, hingga peningkatan produktivitas. Namun, kerja sama tersebut tetap diarahkan untuk mendukung kemampuan produksi nasional dan bukan menciptakan ketergantungan baru. Penguatan sektor pertanian dalam negeri menjadi penting agar Indonesia mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai kondisi. BRICS dapat menjadi salah satu forum untuk memperluas akses terhadap teknologi dan pengalaman negara lain.
Ketahanan energi juga menjadi bagian penting dari agenda Indonesia. Pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi membutuhkan pasokan energi yang cukup, stabil, dan kompetitif. Pada saat yang sama, Indonesia menghadapi kebutuhan mempercepat pengembangan sumber energi yang lebih berkelanjutan. Kerja sama internasional dapat membuka peluang investasi dalam energi baru terbarukan, teknologi penyimpanan energi, jaringan listrik, hingga pengembangan industri pendukung. Indonesia juga mempunyai berbagai sumber daya yang dapat menjadi modal dalam membangun rantai pasok energi masa depan. Pemerintah berupaya memastikan kerja sama tersebut menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.
Keanggotaan dan keterlibatan aktif dalam BRICS juga dapat digunakan untuk memperluas hubungan perdagangan. Diversifikasi pasar menjadi semakin penting ketika perekonomian global menghadapi ketidakpastian dan persaingan antarnegara semakin tinggi. Ketergantungan terlalu besar terhadap pasar tertentu dapat meningkatkan kerentanan ketika terjadi perubahan kebijakan atau perlambatan ekonomi. Indonesia karena itu berkepentingan membuka lebih banyak tujuan ekspor bagi produk nasional. Pelaku usaha juga membutuhkan akses yang lebih luas terhadap jaringan perdagangan dan investasi internasional. Hubungan dengan negara-negara BRICS dapat menjadi salah satu jalur untuk memperkuat diversifikasi tersebut.
Investasi menjadi bidang lain yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan. Pemerintah membutuhkan modal dalam jumlah besar untuk mendukung pembangunan infrastruktur, hilirisasi, industri manufaktur, energi, dan transformasi teknologi. Namun, investasi yang masuk diharapkan tidak hanya membawa modal, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan memperkuat kemampuan industri nasional. Transfer teknologi serta peningkatan keterampilan tenaga kerja menjadi aspek yang perlu diperhatikan dalam setiap proyek. Pemerintah juga berkepentingan memastikan investasi tetap mengikuti aturan dan memberikan manfaat ekonomi yang proporsional. Dengan pendekatan tersebut, hubungan internasional dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas ekonomi dalam negeri.
Hilirisasi sumber daya alam menjadi salah satu agenda yang dapat memperoleh dukungan melalui perluasan kemitraan global. Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dengan membangun industri pengolahan di dalam negeri. Strategi tersebut membutuhkan teknologi, modal, tenaga terampil, dan akses pasar internasional. Negara-negara mitra dapat menjadi sumber investasi sekaligus pasar bagi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Namun, kerja sama perlu dirancang agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi produksi dengan manfaat terbatas. Pengembangan industri nasional dan peningkatan kemampuan perusahaan dalam negeri harus berjalan bersama masuknya investasi asing.
Perkembangan teknologi juga membuat hubungan dengan berbagai negara semakin penting. Kecerdasan buatan, semikonduktor, teknologi digital, komputasi, dan otomatisasi menjadi bagian dari persaingan ekonomi global. Indonesia membutuhkan peningkatan kemampuan agar tidak hanya menjadi pasar bagi produk teknologi negara lain. Kerja sama dapat diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia, penelitian, pendidikan, dan pembangunan industri teknologi. Generasi muda Indonesia perlu mendapatkan kesempatan menguasai keterampilan yang dibutuhkan dalam ekonomi baru. BRICS dapat menjadi salah satu wadah untuk membuka hubungan dengan pusat-pusat teknologi yang berkembang di berbagai negara anggotanya.
Meski memperkuat keterlibatan dalam BRICS, Indonesia tetap mempunyai kepentingan menjaga hubungan dengan mitra di luar kelompok tersebut. Politik luar negeri bebas aktif memberikan ruang bagi Indonesia untuk bekerja sama dengan berbagai negara berdasarkan kepentingan nasional. Hubungan dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, negara-negara ASEAN, Timur Tengah, dan berbagai mitra lainnya tetap mempunyai nilai strategis. Keikutsertaan dalam satu forum tidak harus diterjemahkan sebagai keberpihakan terhadap blok tertentu. Indonesia justru dapat menggunakan jaringan hubungan yang luas untuk memperbesar ruang diplomasi. Pendekatan tersebut menjadi penting ketika rivalitas antarnegara besar semakin kuat.
ASEAN juga tetap menjadi salah satu pilar utama kebijakan luar negeri Indonesia. Posisi geografis dan hubungan ekonomi membuat stabilitas Asia Tenggara mempunyai pengaruh langsung terhadap kepentingan nasional. Keterlibatan dalam BRICS dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat ASEAN sebagai pusat kerja sama regional. Indonesia mempunyai kepentingan menjaga kawasan tetap damai agar perdagangan, investasi, dan pembangunan dapat berlangsung tanpa gangguan besar. Hubungan dengan berbagai kekuatan dunia dapat dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas tersebut. Kemampuan menjaga keseimbangan menjadi salah satu tantangan utama diplomasi Indonesia.
Dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks, diplomasi ekonomi menjadi semakin penting. Konflik di berbagai kawasan dapat memengaruhi harga energi, pangan, biaya logistik, dan rantai pasok yang pada akhirnya dirasakan masyarakat Indonesia. Pemerintah karena itu perlu mempunyai hubungan dengan sebanyak mungkin mitra untuk mengurangi risiko gangguan. Diversifikasi pemasok dan pasar dapat memberikan ruang lebih besar ketika salah satu jalur perdagangan mengalami masalah. Forum seperti BRICS memberikan tambahan kanal komunikasi yang dapat dimanfaatkan dalam kondisi tersebut. Namun, keberhasilan diplomasi tetap harus dinilai berdasarkan manfaat konkret yang diperoleh Indonesia.
Penguatan kerja sama internasional melalui BRICS pada akhirnya menjadi bagian dari strategi pemerintahan Prabowo untuk memperbesar ruang gerak Indonesia di tengah perubahan tatanan global. Hubungan tersebut diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan dan energi, memperluas perdagangan, menarik investasi berkualitas, mempercepat hilirisasi, serta meningkatkan penguasaan teknologi. Pada saat bersamaan, Indonesia tetap perlu mempertahankan hubungan konstruktif dengan negara dan forum lain agar kebijakan luar negeri tidak terjebak dalam persaingan blok. Prinsip bebas aktif memberikan landasan bagi Indonesia untuk membangun kemitraan berdasarkan kepentingan nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai kesepakatan internasional benar-benar menghasilkan investasi, lapangan kerja, peningkatan kapasitas industri, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan orientasi tersebut, BRICS dapat menjadi salah satu instrumen diplomasi Indonesia untuk memperkuat posisi nasional sekaligus memperluas kontribusi di tingkat global.