Manggarai, 8 September 2026 – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Manggarai dan sekitarnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa, 8 September 2026 siang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 11.40.29 WIB dengan pusat gempa berada di laut. Berdasarkan informasi awal, episenter berada sekitar 60 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, pada koordinat 8,08 derajat Lintang Selatan dan 120,56 derajat Bujur Timur. Gempa mempunyai kedalaman 10 kilometer sehingga tergolong sebagai gempa dangkal yang guncangannya dapat dirasakan cukup jelas di sejumlah wilayah. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Guncangan gempa dirasakan paling kuat oleh masyarakat di Kabupaten Manggarai dengan intensitas mencapai III-IV pada skala Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada intensitas tersebut, getaran dapat dirasakan dengan jelas oleh banyak orang di dalam rumah dan dalam kondisi tertentu dapat membuat benda-benda ringan bergoyang. Sementara di Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Nagekeo, dan Kabupaten Ngada, getaran tercatat berada pada intensitas III MMI. Guncangan juga dilaporkan mencapai Kabupaten Sumba Timur dengan intensitas II-III MMI. Luasnya wilayah yang merasakan getaran menunjukkan energi gempa dapat dirasakan hingga sejumlah daerah yang berada cukup jauh dari lokasi episenter.
BMKG dalam informasi resminya menyebut pusat gempa berada di laut dan tidak menghasilkan ancaman tsunami bagi wilayah pesisir. Hasil tersebut memberikan kepastian awal kepada masyarakat agar tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai kemungkinan terjadinya gelombang tsunami. Meski demikian, warga tetap diminta memperhatikan perkembangan informasi resmi karena parameter gempa dapat diperbarui setelah analisis yang lebih lengkap dilakukan. Informasi awal gempa bumi pada umumnya disampaikan dengan cepat untuk memberikan peringatan kepada masyarakat sehingga hasilnya masih dapat mengalami pemutakhiran. BMKG juga meminta masyarakat berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan setelah guncangan utama.
Gempa pada Selasa siang menambah rangkaian aktivitas seismik yang dalam beberapa waktu terakhir terjadi di kawasan Flores dan sekitarnya. Pada Selasa dini hari pukul 00.38.38 WIB, gempa magnitudo 4,1 sebelumnya juga terjadi dengan pusat berada di laut sekitar 57 kilometer utara Ruteng, Manggarai, pada kedalaman 10 kilometer. Getaran gempa tersebut tercatat dirasakan dengan intensitas III MMI di Kabupaten Manggarai. Sehari sebelumnya, Senin, 7 September, gempa magnitudo 4,4 juga terjadi sekitar 47 kilometer utara Ruteng dengan kedalaman 9 kilometer dan dirasakan pada skala III MMI di wilayah yang sama. Beberapa kejadian tersebut membuat masyarakat di Manggarai dan kawasan sekitarnya perlu tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap aktivitas kegempaan.
Aktivitas gempa di sekitar Flores sebenarnya telah beberapa kali tercatat dengan magnitudo di atas 5 sepanjang beberapa pekan terakhir. Pada 31 Agustus 2026, misalnya, wilayah Flores diguncang gempa yang pada analisis awal berkekuatan M5,5 dan kemudian diperbarui menjadi M5,4. Episenter ketika itu berada di laut sekitar 46 kilometer timur laut Ruteng dengan kedalaman 10 kilometer. Hasil pemodelan BMKG juga memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Kejadian berulang di kawasan tersebut menunjukkan pentingnya masyarakat memahami langkah mitigasi karena NTT merupakan salah satu wilayah Indonesia yang mempunyai aktivitas tektonik cukup aktif.
Gempa dengan kedalaman relatif dangkal seperti kejadian pada Selasa siang dapat menghasilkan guncangan yang terasa nyata di permukaan meskipun kekuatannya berada pada kategori menengah. Dampak yang dirasakan di setiap lokasi dapat berbeda bergantung pada jarak terhadap pusat gempa, kondisi geologi setempat, karakteristik tanah, hingga kualitas konstruksi bangunan. Karena itu, masyarakat yang berada dekat episenter perlu memeriksa kondisi rumah atau bangunan setelah guncangan kuat dirasakan, terutama apabila ditemukan retakan maupun perubahan pada struktur. Bangunan yang mengalami kerusakan sebaiknya tidak langsung digunakan sebelum dipastikan aman. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko apabila terjadi gempa susulan dengan kekuatan yang cukup signifikan.
Masyarakat juga diimbau tetap tenang apabila gempa susulan terjadi dan segera melakukan tindakan perlindungan sesuai kondisi lingkungan masing-masing. Ketika berada di dalam bangunan saat guncangan berlangsung, masyarakat perlu melindungi kepala dan tubuh dari benda yang berpotensi jatuh serta menghindari kaca, lemari tinggi, atau struktur yang tidak stabil. Evakuasi sebaiknya dilakukan secara tertib setelah guncangan mereda dan tidak menggunakan lift pada bangunan bertingkat. Bagi warga yang berada di luar ruangan, lokasi terbuka yang jauh dari bangunan, tiang listrik, pohon besar, maupun benda yang berpotensi roboh menjadi pilihan lebih aman. Kesiapsiagaan semacam ini penting karena waktu dan kekuatan gempa susulan tidak dapat dipastikan sebelumnya.
Kondisi di wilayah pesisir juga perlu disikapi berdasarkan informasi resmi mengenai potensi tsunami dan bukan berdasarkan kabar yang beredar melalui media sosial atau pesan berantai. Untuk gempa M5,2 kali ini, BMKG secara tegas menyatakan tidak terdapat potensi tsunami sehingga masyarakat tidak perlu melakukan evakuasi tsunami tanpa adanya instruksi resmi. Namun, warga tetap perlu mengenali jalur dan titik evakuasi di daerah tempat tinggal sebagai bagian dari kesiapsiagaan jangka panjang. Indonesia berada di kawasan dengan aktivitas kegempaan tinggi sehingga pemahaman mengenai prosedur penyelamatan menjadi penting, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa dan pesisir. Informasi terbaru mengenai gempa juga perlu diperoleh melalui kanal resmi agar masyarakat tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi keliru.
Hingga informasi awal disampaikan, perhatian utama diarahkan pada pemantauan aktivitas gempa susulan dan perkembangan kondisi di daerah yang merasakan guncangan. BMKG meminta masyarakat tetap berhati-hati karena gempa susulan masih mungkin terjadi setelah gempa utama berkekuatan M5,2 tersebut. Warga di Manggarai, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Sumba Timur, dan daerah sekitarnya dapat tetap beraktivitas dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi bangunan serta lingkungan masing-masing. Kepastian bahwa gempa tidak berpotensi tsunami diharapkan dapat mencegah kepanikan, khususnya bagi masyarakat yang berada di kawasan pesisir. Pemantauan tetap diperlukan hingga aktivitas seismik menunjukkan perkembangan yang lebih stabil dan tidak menimbulkan ancaman lanjutan bagi masyarakat.